JEJAK DI ATAS ASPAL

FBS-Karangmalang. Tiba-tiba seorang gadis berteriak dan berlari, dia memanggil sebuah nama, “Samsu... Samsu”, tak heran semua orang tercengang memandangnya. Gadis itu tampak aneh, dengan celana compang-camping, plastik hitam pekat menutupi rambutnya, wajah masam dan kusam. Ia kembali berteriak diatas panggung sambil menari, para penonton tersenyum namun nama “Samsu” tetap ia panggil. Tak berhenti disitu, sesaat setelah gadis gila pergi, dibalik layar putih terlihat siluet dua insan berbeda jenis seakan sedang berpelukan dan munculah gadis cantik yang menggoda lelaki yang hilir mudik disampingnya. Persimpangan jalan yang ramai akan hiruk pikuk kendaraan seakan makin carut marut tatkala para pengemis dan anak jalanan beradu suara dengan seorang anggota Satpol PP yang tak bisa berbuat banyak. Sungguh memang jalan selalu sepi dalam keramaian dan selalu ramai dalam kesepian.

Itulah salah satu adegan yang dimainkan dalam Dramatisasi dan Musikalisasi Puisi: Jejak Diatas Kapal. Tentunya mereka bukan pengemis sungguhan, mereka adalah bagian dari Komunitas Akar PBSI kelas K 2010. Mengangkat cerita tentang curahan hati dari mereka yang setiap harinya menghiasi pinggir dan sudut jalan, mereka berhasil memukau penonton dengan suguhan yang apik. Acara ini adalah acara mandiri yang digagas Komunitas Akar sebagai wujud kepedulian untuk melestarikan “ruh seni dan budaya” secara khusus di FBS dan UNY pada umumnya. Sesuai dengan filosofi nama komunitasnya, mereka berharap komunitas ini tumbuh layaknya sebuah akar, dari akarlah akan bermunculan tunas-tunas yang lain.

Dyah Ayu Widyowati selaku Pimpinan Produksi pada Senin (28/11) dalam sambutannya mengatakan, “Semoga bagi mereka yang tertarik dengan sastra, Komunitas Akar dapat menjadi wadah yang tepat untuk menampungnya.”

Acara ini mendapat dukungan dari Balai Bahasa Yogyakarta, sehingga doorprize yang diberikan berbeda dengan acara pada umumnya. Pada malam itu beberapa penonton yang beruntung mendapatkan buku sastra klasik seperti Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Hang Tuah, dan kumpulan syair-syair klasik. Jadi, penonton tidak hanya mendapat suguhan tontonan yang menarik tapi juga ilmu yang bermanfaat. (Fitri)