Sastra Menumbuhkan Religiusitas dan Humanitas

FBS, KARANGMALANG – Sastra menjadi alternatif untuk menumbuhkan nilai-nilai religiusitas dan humanitas bagi kehidupan berbangsa. Sastra memberi pencerahan (insight) melalui tokoh, peristiwa, persoalan, latar religi, serta budaya. Sebagai sistem komunikasi estetik, sastra tidak sekedar menyajikan cerita tetapi juga mengandung pesan-pesan moral. Ia tidak hanya bentuk ekspresi estetik, tetapi juga nilai-nilai tertentu.

Demikian beberapa poin yang disampaikan Guru Besar Ilmu Pembelajaran Sastra Indonesia UNY, Prof. Dr. Suroso, M.Pd. saat menyampaikan pidato pengukuhan guru besar di ruang sidang utama gedung rektorat UNY, Rabu (14/3/2018). Mengutip pendapat Mangunwijaya (1998) bahwa pada mulanya karya sastra adalah religius. “Religius yang berasal dari kata relego bermakna memeriksa lagi, menimbang, dan merenungkan dengan hati nurani. Semua makna tersebut tercakup dalam seluruh aktivitas kita saat bersinggungan dengan sastra,” jelas Suroso.

Pada kenyataannya, tambah Suroso sambil mengutip Sayuti (1999), terdapat tiga wilayah yang selama ini sering menjadi sumber penciptaan karya sastra. Ketiga hal tersebut adalah wilayah kehidupan beragama, sosial, dan individual. Hal ini menegaskan bahwa sastra hadir dengan menyentuh nilai-nilai religiusitas, humanitas, dan juga universalitas.

“Nilai-nilai religiusitas dan humanitas yang terdapat dalam karya sastra menjadi penting dan dapat dimanfaatkan dalam pembangunan karakter bangsa,” papar Suroso, yang beberapa saat tinggal di Tiongkok untuk mengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Guangdong University of Foreign Studies dan Qujing Normal University.

Menurutnya, ada empat langkah pembentuk