TALKSHOW INTERNASIONAL BERSAMA CHANDRAN NAIR: MENYOAL POTENSI INDONESIA DI ABAD KE- 21

FBS-Karangmalang. Chandran Nair, yang saat ini menjabat sebagai CEO Global Institute for Tomorrow hadir di UNY sebagai pembicara dalam gelaran Talkshow Internasional pada Sabtu (15/8/2015) lalu. Talkshow ini diadakan dalam rangka menindaklanjuti 6th University Scholars Leadership Symposium (USLS) di Polytechnic University Hong Kong yang berlangsung dari tanggal 1 Agustus sampai dengan 7 Agustus 2015 lalu. USLS merupakan program leadership internasional yang diikuti oleh perwakilan pengurus ormawa, baik di tingkat universitas maupun fakultas.

Talkshow yang bertemakan Why The 21st Century Will Be Different, Global Perspective About Indonesia tersebut merupakan program dari WD III FBS. Bertempat di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, acara dimulai pada pukul 15.30 WIB dan dimoderatori oleh Zidnie Ilma (Sastra Inggris 2011). Prof. Hj. Suwarsih Madya, Ph.D selaku Wakil Rektor IV memberikan sambutannya sekaligus membuka acara tersebut.

Chandran Nair mengawali pidatonya dengan sedikit bercerita, bahwasanya ia sedang berkunjung ke Indonesia dalam rangka berlibur. Namun demikian, ia tak sungkan meluangkan waktunya untuk berdialog dengan para mahasiswa di UNY. Dalam pidatonya, Chandran menyampaikan perspektif mengenai potensi Indonesia di kancah internasional. Sesuai dengan tema talkshow kali itu, ia membeberkan alasan utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan Indonesia di abad ke-21. Menurutnya, ada 5 alasan utama, antara lain: populasi, perubahan iklim, perkembangan teknologi, kapitalisme, serta pemanfaatan sumber daya.

“Indonesia mungkin saja menjadi negara top five di dunia dalam kurun waktu 30 tahun ke depan, baik dari segi ekonomi maupun politik,” paparnya. Lebih lanjut, ia juga memberikan suntikan motivasi kepada para mahasiswa yang hadir pada hari itu untuk turut berkontribusi dalam mendidik generasi Indonesia yang akan datang, mengingat UNY ialah kampus kependidikan yang nantinya melahirkan para calon guru. “Jangan mau diam saja di panggung dunia, anda harus speak up, ingat bahwa anda tinggal di salah satu negara terkaya di dunia,” pesannya.

Dalam sesi tanya jawab, muncul beberapa pertanyaan menarik, salah satunya ialah Agus Setiawan (Ketua BEM FBS) yang menanyakan bagaimana hidup di dalam tradisi namun dalam waktu yang sama tetap berperan dalam komunitas global. Dijawab oleh Chandran, bahwa budaya bukanlah sesuatu yang harus dikorbankan untuk hidup dalam komunitas global. Sebaliknya, hal itulah yang harus dipertahankan. Selain itu, perspektif barat juga tak seharusnya ditelan mentah-mentah.

Talkshow sore itu dihadiri oleh jajaran dekanat dan sekitar 150-an mahasiswa, baik dari UNY maupun non-UNY. Hadir pula Mela Melinda, salah satu delegasi FBS yang mengikuti USLS di Hong Kong. Ditemui di sela-sela acara, Mela mengaku senang dengan kehadiran Chandran Nair di UNY. Dengan antusias, ia juga menceritakan sedikit pengalamannya selama simposium di Hong Kong. "Seneng sih di sana dapat banyak ilmu," katanya. Ia pun menambahkan, pasca mengikuti simposium tersebut justru membuatnya semakin bersyukur karena tinggal di Indonesia. "Walaupun kita punya berbagai keragaman, justru membuat toleransi warganya semakin tinggi," tandas Ketua DPM FBS tersebut.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan, kemudian ditutup dengan foto bersama. Dr. Kun Setyaning Astuti selaku Wakil Dekan III FBS berharap, dengan adanya talkshow itu akan menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan para peserta terhadap Indonesia. “Sebagai bangsa Indonesia, generasi mudanya harus bangga,” pungkasnya. (Muvida/HumasFBS)