WORKSHOP TEMBANG DOLANAN ANAK : KEMBANGKAN KOGNITIF DAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK

FBS-KARANGMALANG – Tembang dolanan anak (the traditional Javanese children’s singing games) dinilai mampu mengembangkan kognisi anak sekaligus kemampuan bersosial mereka. Ketika teknologi menjadikan anak-anak kehilangan kesempatan berinteraksi sosial sekaligus mengembangkan aktivitas fisik mereka, tembang dolanan anak mampu menstimulasi pertumbuhan kognisi dan sosial anak. Selain itu, tembang dolanan anak ternyata mampu menanamkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya membuka kembali ingatan masyarakat akan pesan-pesan moral pembangun karakter anak.

Demikian pokok-pokok pikiran yang tersampaikan dalam Workshop Pengajaran Musik yang diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dengan Aminef-Fullbright, Amerika Serikat pada Kamis (3/8/2017) di Ruang Seminar PLA lantai 3 FBS UNY. Dengan mengangkat tajuk “Transforming Music Teaching and Leraning Through a Culturally-Embeded Pedagogy: Sample Lesson for Javanese Tembang Dolanan Anak and Arabic Music,” kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Ki Priyo Dwiarso (pengurus Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa), Jui-Ching Wang (Universitas Northen Illionis, Amerika), Aboud (Albert) Agha (Universitas California, L.A.), Dr. A. M. Susilo Pradoko, M.Si. dan Dr. Ayu Niza Machfauzia, M.Pd. (Universitas Negeri Yogyakarta).

“Semua anak pada hakikatnya menyukai kinder spellen (dolanan anak), sehingga upaya memberikan pengajaran pada anak dapat dilakukan melalui jenis permainan ini,” jelas Ki Priyo Dwiarso, yang menjadi salah satu pembicara dalam acara tersebut. Menurutnya, dengan memanfaatkan dolanan sebagai media pengajaran, anak-anak tidak tercerabut dari sifat kodratinya. Tembang dan tari dolanan sangat efektif untuk membangun karakter positif anak dengan wirogo, wiroso, dan wiromo. Wirogo berkaitan dengan solah bowo atau patrap (sikap badan). Wiroso berkenaan dengan olah rasa dan penghayatan batin. Sementara itu, wirama berkaitan dengan olah irama. Dengan demikian, tembang dolanan anak menyentuh seluruh aspek kedirian seorang anak.

Sementara itu dalam paparannya, Jui Ching Wang, pakar di bidang pendidikan musik dari Universitas Northern Illionis, Amerika, menjelaskan bahwa tembang dolanan anak mampu mengembangkan pola pikir anak sekaligus dapat meningkatkan kemampuannya dalam bersosialisasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya terhadap tembang dolanan anak, ia menyimpulkan bahwa tembang dolanan anak mampu menjadikan anak mengikuti aturan dan perintah, dapat memperoleh informasi umum mengenai diri mereka, keluarga, dan lingkungan tempat anak-anak tinggal, serta menanamkan nilai-nilai sosial-budaya dalam diri anak.

Tembang dolanan anak juga dinilai mampu mengembangkan kreativitas musikal anak. “Dengan menggunakan teknik-teknik, seperti canon, filler, dan ostinato, misalnya, kreativitas musikal anak dapat dikembangkan secara lebih baik,” demikian ungkap pakar pendidikan musik dan karakter, Ayu Niza Machfauzia, di sela-sela acara workshop.

Kegiatan workshop ini merupakan wujud perhatian Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk menggali warisan budaya bangsa yang dinilai masih sangat relevan bagi perkembangan zaman. Sebagai salah satu bagian dari “penjaga gawang kebudayaan”, FBS UNY terus berusaha menggali khasanah budaya dan kearifan lokal bagi pembentukan masyarakat yang lebih berbudaya, salah satunya melalui penggalian tembang dolanan anak. [humasfbs/dby]

MATERI PRESENTASI DAPAT DIUNDUH DISINI