Sharing dari Pakar di Bidang Wirausaha dalam Level Up Series #3: Crafting Your Path to Success

Keterangan Sumber Foto: 
PBI

Pada tanggal 3 Agustus 2022, Program Studi Sastra Inggris FBS UNY menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum Level Up Series #3: Crafting YOUR Path to Success . Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yang handal di bidang wirausaha, yaitu 1) Dr. Kurniawan, M. Hum, founder Kurnia English Course, BASOSBUD, Hipnoterapi anak, sabun kecantikan Five V, Kampung Inggris Solo, Kiddos Speak, HM Management, dan Rumah Parenting. 2) Desideria Cempaka Murti, Ph. D., seorang academic entrepreneur yang juga Director of Development dan co-founder Travelxism, serta 3) Nova Suparmanto, M. Sc., seorang technopreneur yang juga founder dari CV Astoetik Indonesia, PPTI Yogyakarta, dan PT PMCT.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui ruang virtual Zoom ini dihadiri oleh 237 peserta yang merupakan dosen dan mahasiswa prodi Sastra Inggris angkatan 2018-2022. Acara yang berlangsung selama lebih dari tiga jam ini dipandu oleh Dr. Andy Bayu Nugroho, M. Hum.
Pada sesi pertama, Dr. Kurniawan menyampaikan bahwa menguasai bahasa, apalagi Bahasa Inggris merupakan kesempatan bisnis yang luas. Kemudian ia memberi penjelasan tentang alasan-alasan menjadi wirauasaha. Diantaranya adalah memiliki kebebasan waktu dalam bekerja, memiliki penghasilan yang besar, memiliki kontrol penuh terhadap bisnisnya, menciptakan lapangan kerja, dan mengaplikasikan ide-ide kreatif. Hal-hal yang sering membuat orang menunda untuk berwirausaha juga ia jelaskan, seperti tidak punya pengalaman, melihat kegagalan orang lain, tidak punya modal, merasa tidak mampu, tidak ada motivasi, dan tidak punya tempat strategis untuk menjalankan usaha. Lebih lanjut ia jelaskan bahwa hal-hal tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang untuk memulai bisnis, apalagi untuk mahasiswa Sastra Inggris karena bahasa adalah kesempatan bisnis. Bahasa dapat menjadi pendukung bisnis maupun basis produk yang dibisniskan. Tak lupa ia memberikan tips untuk menemukan peluang bisnis, misalnya dengan membaca buku bisnis, melihat kemampuan dalam diri kita, memulai dari hobi atau keterampilan yang kita miliki, melihat kebutuhan pasar, dan belajar dari masalah.
Pada sesi kedua, Desideria Cempaka Murti, Ph. D mengawali paparannya dengan memberikan motivasi untuk para mahasiswa. Disampaikan oleh Desi bahwa mereka merupakan generasi emas Indonesia yang berada pada rentang usia strategis. Negara-negara lain yang tidak banyak memiliki penduduk pada usia strategis, seperti Jepang, Tiongkok, dan Amerika, akan membutuhkan mereka. Sehingga ini merupakan kesempatan besar untuk generasi emas Indonesia untuk bekerja keluar maupun untuk memiliki klien dari negara-negara tersebut. Selain itu, dalam dunia yang berubah dengan cepat seperti sekarang ini, mereka harus bersiap dan berpikir untuk bekerja dalam bidang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, seperti menjadi desainer sampah, pengusaha dan konsultan kematian, pemandu luar angkasa, dan manajer memori orang-orang meninggal. Lebih lanjut ia kemukakan bahwa dalam menghadapi perubahan zaman yang serba cepat ini, ada lima soft skills yang sangat dibutuhkan, yaitu kreativitas, persuasi, kolaborasi, adaptabilitas, dan kecerdasan emosional. Tips yang dia berikan untuk para mahasiswa yang akan berwirausaha adalah mereka harus menjadi problem solver dan creator serta menciptakan personal brand.
Sebagai penutup dalam acara kuliah umum ini, dihadirkan narasumber ketiga, yaitu Nova Suparmanto, M. Sc. Alumnus dari Fakultas Teknik UNY ini memiliki segudang prestasi dan penghargaan yang memukau para peserta. Nova mengawali paparannya dengan memainkan video sebuah berita yang menampilkan prestasinya sebagai penemu kompor listrik Astoetik yang sangat membantu para perajin batik. Astoetik ini direkognisi sebagai satu-satunya kompor batik listrik yang berstandar SNI dan diekspor ke luar negeri. Kemudian, Nova menjelaskan bahwa kesukesan itu prosesnya sangat sulit dan berliku. Akan tetapi, jika kita berkomitmen untuk mencapainya, maka kesuksesan itu akan kita dapatkan. Nova juga memotivasi para peserta untuk berwirausaha saat masih kuliah. Dengan menjadi wirausaha ketika kuliah, mereka tidak akan memikirkan keuntungan, tetapi pengalaman, dapat lebih optimal dalam berpromosi, memiliki jejaring yang lebih luas, menghabiskan jatah gagal agar dapat segera sukses, dan sebagai persiapan dini sebelum lulus. Tak lupa dia memberikan kunci dari wirausaha, yaitu memulai darimana kita berada, menggunakan apa yang kita miliki dan melakukan apa yang kita bisa.
Meskipun berlangsung selama lebih dari tiga jam, para peserta sangat antusias untuk mengikuti acara ini. Hal ini terlihat dari antusiasme mereka dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan. Seorang peserta menanyakan bagaimana jika kita sudah punya ide usaha, akan tetapi usaha tersebut tidak sesuai dengan jurusan kita. Atas pertanyaan tersebut, narasumber menanggapi dengan menjelaskan bahwa bisnis dapat berdasarkan hobi maupun kompetensi. Yang terbaik adalah jika usaha yang didirikan berdasarkan kedua hal tersebut. Akan tetapi, usaha yang berdasar atas hobi saja atau kompetensi saja pun tidak masalah apabila kita berkomitmen karena kunci dari sebuah bisnis adalah komitmen.
Melihat kebermanfaatan dari acara ini serta antusiasme yang tinggi dari para peserta, Program Studi Sastra Inggris berencana untuk menyelenggarakan acara serupa di masa mendatang dengan menghadirkan para pakar/praktisi/profesional di bidang yang lain.