TEATER JUANG: MENGKRITIK PENDIDIKAN DENGAN PEMENTASAN DRAMA

FBS-Karangmalang. Ada yang berbeda dari kajian drama tahun 2017. Jika biasanya kajian drama program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (prodi PBSI) digabung menjadi sebuah parade akbar dengan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia (prodi BSI), kali ini kajian drama kedua prodi tersebut berdiri sendiri. Hal ini dikarenakan mata kuliah drama yang biasanya diberikan pada semester 5 untuk mahasiswa PBSI dan BSI, kini diberikan pada mahasiswa PBSI di semester 5 dan BSI di semester 6. Mahasiswa tidak lagi membuat sebuah pementasan drama dalam kelas besar melainkan dibagi dalam kelas-kelas kecil. Dalam parade kali ini ada 5 teater dari prodi PBSI yang akan melakukan pentas kajian drama diantaranya, Teater Juang, Teater Mahesa, Teater Kandela, Teater Tapak Tilas, dan Teater Gardaka. Kelima teater tersebut akan melakukan pementasan di Laboratorium Karawitan mulai tanggal 12 desember 2017 hingga 22 desember 2017. Parade dibuka oleh Teater Juang pada tanggal 12 desember 2017 dengan membawa naskah Guru adaptasi naskah Zetan karya Putu Wijaya.

Mengusung naskah Zetan karya Putu Wijaya yang diadaptasi menjadi Guru, Teater Juang ingin menyampaikan kritiknya terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang semakin hari semakin memprihatinkan. Pementasan yang berdurasi kurang lebih 120-150 menit tersebut membicarakan bahwa sistem pendidikan sekarang ini hanya berorientasi pada hasil dan mengesampingkan nilai moral kemanusiaan dalam prosesnya. “Karena naskah ini mengusung isu pendidikan, dan saya adalah mahasiswa pendidikan, maka saya berharap dengan naskah ini teman-teman dan saya terutama dapat sadar tentang kondisi pendidikan saat ini. Bahwa pendidikan saat ini kebanyakan hanya menjual sertifikat dan gelar dan mengesampingkan sisi-sisi kemanusiaan”, tutur Habib selaku sutradara pementasan Teater Juang ketika ditanya alasan apa yang mendasari terpilihnya naskah Guru. Bentuk kritik yang ingin disampaikan oleh Teater Juang semakin terasa ketika sosok Zetan dari bangsa setan hadir menemui Guru yang telah dipecat dari sekolah formal. Zetan ingin diajari untuk menjadi seorang pahlawan yang berguna bagi orang banyak. Hal ini terlihat sangat kontradiktif dengan adegan sebelumnya dimana Guru digambarkan dengan susah payah mencari murid dari bangsa manusia untuk diajari cara menjadi pahlawan. Komedi satir yang dibawakan Teater Juang mau tidak mau menyeret penonton dalam sebuah realitas yang memprihatinkan. Bahwa sekarang ini memang benar adanya kemrosotan moral dalam diri anak bangsa. Wacana moral yang justru dibawa oleh Zetan dari bangsa setan menggambarkan betapa menyedihkannya bangsa manusia. Harus ada yang dirubah dan dibenahi.

Memakan waktu kurang lebih empat bulan penuh untuk berlatih serta menghabiskan dana kira-kira 8 juta, pementasan Teater Juang mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari para penonton. Banyak diantaranya para orang tua mahasiswa yang hadir untuk menyaksikan anaknya beradu peran di atas panggung. Praktik pementasan drama dinilai sebagai salah satu metode belajar drama yang menarik, disamping mahasiswa mengerti teori, mahasiswa juga mampu memahami kondisi lapangan. [vinna]